Cianjur, Jawa Barat — Udara sejuk kawasan Cimacan terasa berbeda akhir pekan itu. Bukan sekadar dingin pegunungan, tetapi hangat oleh semangat kebersamaan yang menyatukan lebih dari 50 anak muda dari beragam latar belakang agama dalam satu ruang yang sama: Kamp Kebangsaan 2026 di Villa Liana Puri Solo 333.
Setelah sukses digelar pada 2022, kegiatan ini kembali hadir sebagai ruang temu yang bukan hanya mempertemukan, tetapi juga menumbuhkan. Mengusung tema “Be Smart, Be Nationalist and Be Unity in Diversity,” kamp ini mengajak peserta untuk tidak sekadar memahami arti keberagaman, tetapi benar-benar menghidupinya dalam sikap dan tindakan sehari-hari.
Deretan tokoh lintas iman hadir memberi perspektif yang kaya: Ust. H. Marzuki, Fr. Duen Ginting, Pdt. Doni Susanto, Bli Bayu Anggara Wanapati, Bhikkhu Abbhipunno hingga Ws. Lie Suprijadi. Kehadiran mereka menghadirkan satu pesan yang sama—bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekuatan yang harus dirawat bersama.

Sesi diskusi dikemas dinamis dan relevan. Pada sesi pertama, peserta diajak membedah makna menjadi generasi cerdas, nasionalis, sekaligus mampu hidup dalam keberagaman. Lalu di sesi kedua, pembahasan bergeser lebih dalam: pentingnya perubahan paradigma dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebuah refleksi kritis agar nilai-nilai yang dibahas tidak berhenti sebagai wacana, tetapi menjadi gerakan nyata.
Kehadiran Mayor Arif dari Korem 052 memberikan warna tersendiri. Dengan lugas, ia membagikan pengalaman bertugas di Papua, menegaskan bahwa di tubuh TNI tidak ada sekat suku, agama, maupun ras. “Kami berdiri untuk bangsa dan negara,” pesannya tegas. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan tidak terjebak dalam arus pemikiran sempit yang berpotensi memecah belah NKRI.
Tak kalah menarik, suasana mencair lewat sentuhan kreatif dari Cacuk Wibisono, praktisi industri kreatif dari Global Village. Dengan gaya santai namun bermakna, ia mengajak peserta bernyanyi dan bergoyang dangdut—musik yang disebutnya sebagai identitas kuat budaya Indonesia. Tawa dan kebersamaan pun pecah, membuktikan bahwa pesan kebangsaan bisa disampaikan dengan cara yang hangat dan membumi.

Selama kegiatan berlangsung, peserta tidak hanya duduk dan mendengar. Mereka diajak bergerak, berpikir, dan merasakan. Mulai dari senam pagi yang menyegarkan, sesi meditasi untuk refleksi diri, hingga diskusi interaktif yang membuka ruang dialog tanpa sekat. Semua dirancang untuk satu tujuan: membangun kesadaran bahwa keberagaman adalah realitas yang harus dirangkul, bukan dihindari.
Dukungan dari berbagai pihak seperti Souvenhostel Cipta Persada, Global Village, Korem 052, Camar, dan Wijayakrama turut memperkuat terselenggaranya kegiatan ini. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa semangat membangun generasi muda yang inklusif dan nasionalis adalah tanggung jawab bersama.

Lebih dari sekadar kegiatan, Kamp Kebangsaan 2026 menjadi ruang penyegaran kembali bagi nilai-nilai kebangsaan yang mungkin mulai pudar. Di tengah perbedaan, para peserta belajar satu hal penting: Indonesia tidak dibangun dari kesamaan, tetapi dari keberanian untuk hidup berdampingan dalam perbedaan.
Dan dari Cimacan, semangat itu kembali dinyalakan.

Anak muda yg keren..