Menjaga lingkungan sering dianggap sebagai urusan pemerintah, aktivis, atau organisasi besar. Padahal, perubahan besar justru bisa dimulai dari tempat paling sederhana: gang kecil di lingkungan rumah sendiri. Hal ini dibuktikan oleh Taufiq Supriadi, Ketua RT sekaligus pendiri Gerakan Pencegah Krisis Planet, lewat konsepnya yaitu “Survival Architecture Indonesia.”
Konsep ini diperkenalkan dalam kegiatan edukasi Program Kampung Iklim (ProKlim) di Cakung, Jakarta Timur. Inti dari Survival Architecture Indonesia sebenarnya sangat sederhana, yaitu mengubah lingkungan padat penduduk menjadi kawasan yang mandiri, sehat, dan ramah lingkungan melalui kebiasaan sehari-hari.
Di RT 08/04 Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta, konsep tersebut sudah diterapkan. Warga bersama-sama membangun budaya hidup baru dengan melakukan berbagai kegiatan sederhana, seperti memilah sampah dari rumah, mengolah sampah organik, menanam tanaman pangan di area sempit, menghemat air, menggunakan energi surya, hingga memanfaatkan media digital sebagai sarana edukasi lingkungan.
Perubahan itu membuat kawasan yang dulunya hanya gang permukiman biasa, kini menjadi tempat belajar bagi banyak orang. Mulai dari sekolah, mahasiswa, komunitas, bahkan tamu dari luar negeri datang untuk melihat langsung bagaimana masyarakat mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan produktif dari ruang yang terbatas.
Menurut Taufiq, masyarakat sebenarnya tidak membutuhkan teori yang panjang atau program yang rumit. Yang terpenting adalah contoh nyata yang bisa langsung dirasakan manfaatnya. Ketika warga melihat lingkungan menjadi lebih bersih, pengeluaran rumah tangga lebih hemat, dan kesehatan keluarga lebih baik, maka mereka perlahan mulai ikut bergerak.
“Pilah sampah sesuai kemampuan masing-masing. Tidak perlu menunggu sempurna. Yang penting mulai dulu dan dilakukan terus-menerus,” ujar Taufiq.
Menariknya, gerakan seperti ini bukan hanya mengubah kondisi fisik lingkungan, tetapi juga mengubah perilaku masyarakat. Banyak orang sebelumnya merasa urusan lingkungan adalah urusan pemerintah. Namun ketika masalah lingkungan dikaitkan langsung dengan kebutuhan rumah tangga, kesehatan, dan ekonomi keluarga, cara pandang masyarakat mulai berubah.
Inilah alasan mengapa perubahan perilaku bisa terjadi. Manusia pada dasarnya lebih mudah berubah ketika mereka melihat manfaat yang nyata dan dekat dengan kehidupan mereka sendiri. Saat warga menyadari bahwa sampah yang dipilah dapat mengurangi bau, mengurangi pengeluaran, bahkan memiliki nilai ekonomi, mereka mulai merasa bahwa menjaga lingkungan bukan lagi sebuah beban, melainkan kebutuhan.
Selain itu, budaya gotong royong juga menjadi faktor penting. Ketika satu warga mulai bergerak, warga lain terdorong untuk ikut terlibat. Lingkungan yang sebelumnya pasif, perlahan berubah menjadi komunitas yang saling mendukung. Di situlah muncul rasa memiliki terhadap lingkungan sekitar.
Konsep Survival Architecture Indonesia akhirnya menunjukkan bahwa solusi menghadapi krisis lingkungan tidak selalu harus dimulai dari proyek besar atau kebijakan tingkat tinggi. Perubahan bisa lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten oleh masyarakat biasa.
Dari gang sempit di tengah kota, lahir sebuah pelajaran penting: menjaga bumi sebenarnya dimulai dari perubahan perilaku cara hidup manusia sehari-hari.
